9/30/12

Kopi dan Teh

"Pagi yang membosankan."

Navita Angelina nama lengkapnya. Dia terlahir dengan mata kiri yang tidak normal. Ya, dia tidak bisa melihat dengan mata kirinya karena suatu tragedi yang membuat dirinya membenci lelaki itu-lelaki tidak bertanggung jawab yang membuat Navita juga membenci keadaan fisiknya sekarang.


Navita memandang dirinya sendiri lewat cermin besar yang berada tepat didepan tempat tidurnya. Kemudian tangan kanannya bergerak menuju mata kirinya yang indah-tapi buta. Pikir Navita. Dia melempar boneka besar ke cermin itu. Ingin sekali dia memecahkan cermin itu agar dia tidak melihat mata kirinya-buta. Tidak bisa melihat. Pikir Navita lagi. Air matanya mulai terjatuh dari mata kanannya yang terlihat lebih sempurna.

"Navita sayang, ayo makan roti bakarnya. Ibu sudah siapkan roti bakar kesukaanmu, roti bakar selai rasberry!" Ibu Ninda-orang terdekat Navita di rumah-membujuk Navita untuk segera menghabiskan sarapannya. "Bu, Navi udah 17 tahun! Gak perlu disuruh-suruh sarapan! Navi gak mau makan! Navi mau langsung sekolah!" Navita segera mengambil tasnya lalu berlari menuju mobil mini-bus yang sudah menunggunya di depan 'ístana'-nya.
***
"Navita!!!!" keempat sahabatnya langsung memeluk Navita ketika dirinya tiba di kelas. "Hai fans, kangen sama Navi?" Canda Navita-yang sebenarnya untuk menghibur dirinya sendiri-"Iya, Dinan kangen Navi!" Dinan, sahabat Navita yang termuda, memeluk Navita dengan manja. "Biarkan Navita duduk dulu. Baru dateng udah bikin orang bengek aja!" Syarah menarik lengan Navita. Mereka tertawa dan berjalan mengikuti Syarah dan Navita.
***
Navita mempunyai empat sahabat yang menemaninya sejak duduk di kelas X. Mereka adalah Syarah, Mina, Dinan, dan Lidia. Mereka dikenal sebagai geng yang paling sopan, baik, dan ramah di sekolahnya. Tapi Navita dan sahabatnya lebih suka dianggap sebagai kelompok belajar, bukan geng. Karena menurut mereka, ‘geng’ itu lebih mengarah ke sisi negatif. Syarah dan Lidia adalah dua gadis cantik berkerudung. Meskipun sama-sama berkerudung, tapi Syarah dan Lidia berbeda. Syarah lebih terkesan cuek dan tomboy dibandingkan Lidia. Mina, gadis berambut kecoklatan, terkesan lebih seperti bule ini teman lama Navita yang dipertemukan kembali di SMA. Dinan, gadis termuda di kelompok-belajar Navita memiliki rambut hitam bergelombang. Dia memang sering dianggap anak kecil karena wajah, sifat, dan umurnya.

Meskipun mereka bersahabat, tapi tidak ada yang tahu satupun tentang mata kiri dari Navita. Dia memang sengaja menyembunyikannya karena dia tidak mau kehilangan semua sahabat baiknya. Maka dari itu, Navita sengaja memakai kacamata untuk menutupi kekurangan fisiknya itu.
***
Bel pulang berbunyi. Tapi Navita sangat tidak mau berada di rumah sore ini. Terlalu membosankan katanya. Dia memutuskan untuk pergi ke café yang biasa ia kunjungi sendirian. “Pak, ke café yang biasa ya,” kata Navita membuka kacamatanya. “Tapi neng Navi, neng harus pulang sekarang. Itu perintah Dadnya neng Navi,” balas pak Sino, supir pribadinya. “Navi gak punya Dad! Navi cuma punya Papa Richard! Ngapain sih pak Sino masih aja nurutin si Ninonano itu!” Navita cemberut. “Neng Navi tidak boleh begitu. Dad Nino kan yang-hm, baiklah neng. Nanti Bapak bilang ke Papanya neng saja,” Pak Sino mulai menjalankan mobilnya setelah melihat wajah Navita yang cemberut.

Setibanya di café, Navita menyuruh Pak Sino untuk menjemput Papa. “Biarin Navi diem disini dulu ya, Pak. Biar Bapak jemput Papa dulu. Nanti Navi telepon kalau Navi mau pulang,” Navita berjalan cepat menjauhi mobilnya. Pak Sino mengangguk dan langsung menuju kantor Papa Richard.

Navita menutup pintu café lalu mengambil nafas dan menghembuskannya. Wangi makanan dan minuman yang menggoyangkan perut Navita. Dia langsung mencari tempat duduk yang biasa ia tempati. Kebetulan sekali meja itu tidak ada yang menempati. Navita berlari mendekati meja itu, tapi-bruk! Dia tak sengaja menabrak seorang lelaki memakai baju kemeja kotak dengan celana jeans. Penampilan lelaki itu tidak terlalu rapi tapi sopan. Navita kaget. Secara tak sengaja dia langsung teringat-Dad Nino. Navita menundukkan kepalanya.

“Hm, I’m sorry! Gue gak sengaja. Lo mau duduk disini?” tanya lelaki itu. Navita hanya mengangguk. Dia hanya takut tragedi yang menimpa Mama terulang lagi. “Hello, I’m talking to you! Jangan takut. Gue gak akan ngapa-ngapain. Lo aman sama gue!” kata lelaki itu lagi sambil melambaikan tangannya tepat di depan muka Navita. “Okay, no problem. Hm, iya, meja ini yang paling pewe. Jadi, Navi gak pernah pindah ke meja lain,” Navita mulai mengangkat kepalanya. “Jadi, nama lo Navi? Gue Sandi,” dia mengulurkan tangannya. “Navita, panggil aja Navi,” senyum mulai menghiasi wajah Navita. “Kita duduk bareng aja disini. Navi dengan senang hati kok hehe,” Sandi mengangguk dan duduk dimeja itu berbarengan dengan Navita.

“Pesen apa?” tanya Sandi sambil melihat buku menu. “Hm, Navi mau pesen Espresso sama Tiramicheese Bread, Sandi?” Navita mengalihkan pandangannya tepat ke arah mata Sandi. “Lo suka kopi? Duh, gue gak suka banget. Mending teh tahu!” Sandi mengkerutkan keningnya. “Loh, justru Navi gak suka teh, suka bikin mual,” Navita dan Sandi tertawa bersamaan. “Mbak, Espresso satu, Tiramicheese Bread satu, Green Tea satu, Green-cheese-cake satu. Makasih,” Sandi memberikan buku menunya pada waitress.
***
Sejak Navita bertemu dengan Sandi, dia merasa lebih bersemangat dari sebelumnya. Ya, hanya Sandi lah yang mengetahui tentang mata kirinya. Kemarin secara tidak sengaja Navita bergaya sambil menutup mata kanannya. Bodoh. Cukup bodoh. Pikir Navita. Tapi dia juga harus mulai bercerita tentang seorang Navita yang sebenarnya.

“Navita!!!!” seperti biasa, sahabatnya menyambut Navita dengan bahagia. “Eits, tunggu! Lidia mana?” Navita melepas pelukan ketiga sahabatnya. “Gak tahu nih, Dinan SMS sama Lidia gak dibales,” kata Dinan sambil mengutak-ngatik kembali iPhonenya. “Tumben banget dia belum dateng jam segini. Coba tunggu sampai bel masuk, kalau gak dateng juga, nanti kita telepon. Kalau gak ngangkat, kita ke rumahnya pulang sekolah nanti,” kata Syarah. Navita dan yang lain mengangguk setuju dengan wajah cemas.

Tiba saatnya pelajaran ketiga. Tidak ada kabar apapun dari Lidia. Tak ada guru piket yang masuk dan memberikan kabar tentang Lidia. Mereka-Navita, Dinan, Syarah, dan Mina-sangat khawatir. Saking khawatirnya, Navita sampai tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran. Tak ada satupun materi yang masuk ke dalam otaknya.

“Navi, coba telepon Lidia!” Mina berlari ke meja Navita dengan mata berkaca-kaca. Navita mengangguk lalu mengeluarkan blackberry Torchnya dan mencari kontak Lidia.

          Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi atau berada diluar jangkauan

“Sial!” Mina memukul meja hingga telapak tangannya merah. “Okay, kita ke rumah Lidia pulang sekolah nanti! Pakai mobil Dinan saja ya! Kalau mau dijemput, kalian minta jemput di rumah Lidia saja!” Navita memeluk Dinan yang sudah menangis.
***
“Assalamu’alaikum, Lidia?” Syarah mengetuk rumah Lidia. Tidak ada yang menjawab. Dinan mengetuk pintu rumah Lidia lebih keras. Tak lama, ada seorang wanita tua yang membukakan pintunya. “Hm, permisi, Bu. Lidianya ada?” tanya Navita dengan santai. “Lidia? Siapa?” tanya wanita tua itu. “Gadis berkerudung yang tinggal di rumah ini, Bu,” jawab Syarah. Navita, Dinan, dan Mina mengangguk. “Oh, itu. Ibu kurang tahu, ibu hanya pembantu disini. Orang tua neng Lidia cuma nitip rumah aja,” jawab wanita tua itu yang ternyata pembantunya. “Kira-kira Lidia kapan pulang?” tanya Dinan. “Sudah Ibu bilang, Ibu tidak tahu!!” wanita tua itu berteriak tepat dimuka Dinan dan menutup pintu dengan sangat kencang.
Dinan langsung mengeluarkan air matanya tanpa terdengar suara apapun. Navita yang menyadari Dinan menangis merasa kesal. Lalu dia memukul pintu rumah Lidia dengan sangat kencang dan berteriak, “Bu, tolong bersikap lebih sopan!! Ibu disini hanya pembantu!! Sedangkan kami itu tamu!! Tolong hormati sedikit!!” Mina menahan lengan Navita yang akan mendarat di pintu untuk ke sekian kalinya. Syarah menarik Navita keluar rumah dan menyuruh Mina untuk mendekap Dinan yang terisak dan membawanya ke mobil.

“Navita, cukup!” Syarah masih menarik lengan Navita. “Navi! Navi kenapa jadi gini?” tanya Syarah lebih kalem. “Navi gak mau ada orang yang nyakitin Dinan. Navi gak mau ada orang yang nyakitin sahabat Navi!” air mata Navita jatuh-hanya dari mata kanan saja-tak ada satupun yang menyadari hal itu. Dinan mengangkat kepalanya dan mengarahkan pada Navita. “Makasih udah mau jadi sahabat Dinan, Navi! Dinan gak mau kehilangan Navi! Syarah sama Mina juga! Jangan sampe ninggalin Dinan,” Dinan memeluk ketiga sahabatnya itu.

No comments:

Post a Comment

Blogger maniacs will leave the comment for inspirating the writer.